Dukung program ECHO Green, Camat Ulakan Tapakis Fasilitasi Pertemuan Wali Nagari dan Badan Permusyawaratan Nagari

Padang Pariaman, Media Putra Bhayangkara. Program Mendorong Inisiasi Ekonomi Hijau oleh Petani Perempuan dan Pemuda dalam Sektor Pertanian Berkelanjutan di Indonesia (ECHO-Green), yang didukung oleh Uni Eropa adalah program bersama konsorsium Penabulu sebagai koordinator konsorsium yang bekerjasama dengan lembaga ICCO, Konsil LSM Indonesia, dan KPSHK sebagai anggota konsorsium.

Program yang pelaksanaannya selama tiga tahun (1 Januari 2020 – 31 Desember 2022) ini, bertujuan mempromosikan inisiatif ekonomi hijau oleh petani perempuan dan pemuda di sektor pertanian berkelanjutan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian, keamanan pangan, peluang pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sebagai upaya mendukung pencapaian SDG2, SDG5 dan SDG8 di Indonesia.

Dalam hal itu, Kecamatan Ulakan Tapakis memfasilitasi pertemuan dengan seluruh Wali Nagari dan Ketua Baadan Permusyawaratan Nagari (Bamus) se kecamatan Ulakan Tapakis. Pertemuan yang dilaksanakan pada Selasa 20/10/2020 bertempat di aula kantor Camat serta dihadiri oleh Plt. Camat Ulakan Tapakis Syafruddin, Tim Ahli Land-us Planing Sony Saefulloh berserta rombongan dari Konsil LSM Indonesia, Lusi Anggrayni selaku kordinator Kecamatan dan para Wali Nagari beserta Ketua Bamus se Kecamatan Ulakan Tapakis,Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatra Barat.

Dalam sambutannya, Plt. Camat menyampaikan terima kasih kepada Konsil LSM Indonesia berserta konsorsium, karena telah menunjuk wilayahnya sebagai lokasi program yang berskala nasional. Kami siap mendukung sepenuhnya program ini, hingga selesai pada akhir tahun 2022 nanti.

“Mudah-mudahan program ECHO Green ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pendapatan petani di kecamatan Ulakan Tapakis. “Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19, yang belum tidak dapat kita prediksi kapan akan berakhir”. Ulasnya.

Tim Ahli Sony Saefulloh mengatakan, secara khusus program ini akan fokus pada upaya meningkatkan kolaborasi antara Organisasi Masyarakat Sipil, Pemerintah dan sektor swasta, untuk secara efektif memperkuat keterlibatan petani perempuan dan pemuda. Terutama dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan praktik di tiga Kabupaten yang telah ditunjuk.

“Pada tahun pertama ini, program ECHO Green akan mendorong peningkatan kapasitas kelompok petani perempuan dan generasi muda di sektor pertanian. Bagi mereka yang bekerja di 100 Desa, pada 8 kecamatan di 3 Kabupaten. Untuk kabupaten Padang Pariaman sebanyak 25 nagari yang tersebar Kecamatan Lubuk Alung, Batang Anai dan Ulakan Tapakis, sedangkan sisanya berada di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Lombok Timur”. Jelasnya.

Lusi Anggrayni selaku koordinator lapangan menjelaskan, bahwa ECHO Green akan memperkuat keterlibatan perempuan dan pemuda dalam pembangunan Nagari. Dimana berdasarkan Undang Undang Desa dijelaskan, bahwa Pemerintah Desa memiliki wewenang untuk menyusun Rencana Tata Ruang Desain dan Rencana Tata Guna Lahan Desa yang terintegrasi. Artinya proses-proses perencanaan yang dilakukan harus partisipatif, memastikan keterlibatan efektif perempuan, generasi muda dan kelompok terpinggirkan lainnya.

“Untuk mengimplementasikan hal tersebut, maka dilakukan pertemuan dengan seluruh Wali Nagari dan Bamus yang difasilitasi oleh Pemerintah Kecamatan Ulakan Tapakis. Yang intinya, untuk membicarakan rencana aksi atau rangkaian kegiatan penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Tata Guna Lahan Nagari, termasuk rencana pembentukan Tim Pemetaan di Nagari”. Ujar Lusi menutup pembicaraan.

Diakhir pertemuan, dilakukan penandatanganan berita acara dan komitmen bersama antara Camat dan seluruh Wali Nagari di wilayah itu. Dalam surat itu dinyatakan, bahwa Pemerintah Nagari se-Kecamatan Ulakan Tapakis mendukung sepenuhnya program ECHO Green. Terutama dalam Perencanaan Tata Ruang dan Tata Guna Lahan di masing-masing Nagari.

Sumber: https://mediaputrabhayangkara.com/dukung-program-echo-green-camat-ulakan-tapakis-fasilitasi-pertemuan-wali-nagari-dan-badan-permusyawaratan-nagari/

Tingkatkan Ketahanan Pangan: Uni Eropa dan Yayasan Penabulu Luncurkan Proyek ECHO Green untuk Mendorong Ekonomi Hijau yang Inklusif di Sektor Pertanian

Yayasan Penabulu bersama Konsorsium pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), Konsil LSM Indonesia dan ICCO Cooperation hari ini meluncurkan proyek bertajuk “Promoting Green Economic Initiatives by Women and Youth Farmers in the Sustainable Agriculture Sector in Indonesia (ECHO Green)”.

Peluncuran proyek ECHO Green yang bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Dengan dukungan dana dari Uni Eropa senilai €950.000 atau Rp 16.6 miliar, proyek ECHO Green akan meningkatkan kolaborasi antara Pemerintah, organisasi masyarakat sipil (CSO) dan sektor swasta untuk memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan dan untuk memastikan keterlibatan perempuan dan petani muda dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan.

Proyek ini akan memberikan dukungan teknis kepada 120 CSO, 100 petani perempuan, 100 petani muda, dan 100 desa di delapan kecamatan di tiga kabupaten di Indonesia, yaitu Padang Pariaman (Sumatera Barat), Grobogan (Jawa Tengah) dan Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat). Proyek tersebut akan berakhir pada tahun 2022.

Eko Komara, Direktur Yayasan Penabulu, menyatakan dukungannya untuk ekonomi hijau yang inovatif dengan perempuan dan kaum muda berada di garis depan. “ECHO Green dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di daerah. Perempuan dan kaum muda memiliki peran penting dalam bidang pemberdayaan sumber daya manusia, dan menjadi motor pembangunan di era Teknologi Informasi 4.0.  ECHO Green memiliki ambisi untuk meningkatkan ekonomi hijau, khususnya di bidang pertanian sebagai sektor andalan untuk menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan, mewujudkan kedaulatan dan keberlanjutan pangan, serta memperkenalkan pendekatan yang lebih inklusif bagi semua pihak,” kata Eko.

Dida Suwarida, National Program Manager ECHO Green, mengatakan proyek tersebut akan memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan konsep Ekonomi Hijau kepada masyarakat penerima manfaat di Kabupaten Padang Pariaman, Lombok Timur, dan Grobogan. “Virus corona berisiko bagi masyarakat. Wabah virus memberikan keyakinan kepada kita bahwa perempuan dan kaum muda harus mengambil peran untuk mengamankan masa depan kita. Tanpa optimalisasi teknologi digital, pandemi akan menyebabkan kurangnya minat terhadap pertanian berkelanjutan serta terhambatnya distribusi dan rantai produksi, pemasaran dan konsumsi,” kata Dida.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah mencatat isu peningkatan kebutuhan pangan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk sebesar 1,2 persen. Namun produktivitas  yang  relatif  rendah  dan  fluktuasi harga menyebabkan daya tawar petani rendah.

Proyek ECHO Green sejalan dengan agenda prioritas pembangunan nasional untuk tahun 2020-2024, terutama:

  • Strategi  6.2.2  Meningkatkan  peran  dan keterwakilan perempuan dalam politik dan pembangunan;
  • Strategi 6.3.3 Pengelolaan sumber daya alam  dan  lingkungan  yang  berkelanjutan,  dan  penataan ruang kawasan perdesaan;  dan
  • Strategi 6.9.9  Meningkatkan partisipasi generasi muda dalam pembangunan.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Grobogan dan Lombok Timur membawa nilai tambah dalam pencapaian tujuan ECHO Green.

“Strategi dan konsep ECHO Green sejalan dengan apa yang sedang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur yaitu bagaimana memanfaatkan potensi lokal seperti perikanan, pertanian dan pariwisata sehingga menggairahkan perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan,” kata H.M. Juaini Taofik, Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, mengatakan proyek ECHO Green sangat penting bagi Grobogan karena akan mendorong dan memberdayakan perempuan dan pemuda untuk bekerja di sektor pertanian yang menjadi andalan Kabupaten Grobogan. “Proyek ini diharapkan akan menumbuhkan minat dan ketrampilan teknis mereka untuk menggeluti dunia pertanian,” kata Anang.

Hal senada diungkapkan Yurisman, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman. “Proyek ECHO Green sejalan dengan upaya yang dilakukan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman. Diharapkan pembelajaran berharga dari proyek ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Yurisman.

“Uni Eropa bangga mendukung proyek ini di tiga kabupaten di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Bagi kami, ekonomi hijau yang inklusif adalah bagian dari pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Dengan menerapkan prinsip ekonomi hijau dan inklusif di sektor pertanian akan meningkatkan produktivitas pertanian, menciptakan pendapatan, dan mengurangi ketimpangan dan kemiskinan,” kata Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket. “Perempuan dan petani muda memainkan peran penting dalam komunitas pertanian lokal. Melatih mereka menggunakan teknologi pertanian modern akan meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi. Hal ini akan membantu membangun pertanian jangka panjang dan berkelanjutan. Dengan demikian, proyek baru ini akan memberikan manfaat langsung bagi warga Padang Pariaman, Grobogan, dan Lombok Timur,” tambahnya.

Sumber: https://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/87091/tingkatkan-ketahanan-pangan-uni-eropa-dan-yayasan-penabulu-luncurkan-proyek-echo-green-untuk_id

Uni Eropa dan Yayasan Penabulu Luncurkan ECHO Green

TRIBUNJAKARTA.COM – Yayasan Penabulu bersama Konsorsium pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), Konsil LSM Indonesia, dan ICCO Cooperation, hari ini meluncurkan proyek bertajuk Promoting Green Economic  Initiatives  by  Women  and Youth Farmers in the Sustainable Agriculture Sector in Indonesia (ECHO Green).

Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, proyek yang baru diluncurkan ini bekerjasama dengan sejumlah Kementerian Indonesia.

Sejumlah Kementerian tersebut diantaranya adalah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/ BAPPENAS), Kementerian PPPA, Kementerian  Desa,  Daerah  Tertinggal,  dan Transmigrasi, Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Direktur Yayasan Penabulu, Eko Komara, mengatakan, proyek ini mendapat dukungan dana dari Uni Eropa sebesar Rp 16,6 miliar.

“Proyek ECHO Green akan meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil (CSO), dan sektor swasta untuk memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan dan untuk memastikan keterlibatan perempuan dan petani muda dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan,” katanya dalam konferensi pers secara daring, Jumat (16/10/2020).

Eko Komara menjelaskan, proyek yang sejatinya sudah berjalan ini memberi dukungan teknis pada 120 CSO, 100 petani perempuan, 100 petani muda, dan 100 desa di delapan Kecamatan yang ada di  tiga Kabupaten di Indonesia.

“Tiga Kabupaten  yaitu Padang Pariaman  (Sumatera Barat), Grobogan (Jawa Tengah), dan Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat),” katanya.

Lanjut Eko, ECHO Green juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) di daerah-daerah.

Menurutnya, perempuan  dan kaum muda memiliki  peran  penting  dalam  bidang  pemberdayaan sumber daya manusia,  serta menjadi motor pembangunan di era teknologi informasi 4.0.

“ECHO Green memiliki ambisi untuk meningkatkan ekonomi hijau, khususnya di bidang pertanian sebagai sektor andalan untuk menciptakan lapangan kerja yang  berkelanjutan, mewujudkan  kedaulatan  dan  keberlanjutan  pangan,  serta  memperkenalkan pendekatan yang lebih inklusif bagi semua pihak,” paparnya.

Sementara itu, National Program Manager ECHO Green, Dida Suwarida, menuturkan, ECHO Green memanfaatkan teknologi  digital  untuk memperkenalkan konsep  ekonomi  hijau  kepada  masyarakat penerima manfaat di tiga Kabupaten ini.

“Virus corona berisiko bagi masyarakat. Wabah virus memberikan keyakinan kepada kita bahwa perempuan dan kaum muda harus  mengambil  peran  untuk  mengamankan  masa  depan  kita. Tanpa  optimalisasi  teknologi  digital, pandemi  akan  menyebabkan  kurangnya  minat  terhadap  pertanian  berkelanjutan  serta  terhambatnya distribusi dan rantai produksi, pemasaran dan konsumsi,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten  Lombok Timur, Juaini  Taofik, mengaku bahwa strategi dan konsep ECHO Green sejalan dengan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

“Bagaimana memanfaatkan  potensi lokal seperti perikanan, pertanian dan  pariwisata  sehingga  menggairahkan  perekonomian  yang  inklusif dan berkelanjutan,”  tuturnya dalam konferensi pers secara daring.

Sementara itu, Kepala  Badan  Perencanaan  Pembangunan  Daerah  (BAPPEDA)  Kabupaten  Grobogan,  Anang  Armunanto,  mengatakan, ECHO Green sangat penting bagi daerah Grobogan.

“Ini akan mendorong  dan  memberdayakan  perempuan  dan  pemuda  untuk  bekerja  di  sektor  pertanian  yang  menjadi  andalan  Kabupaten  Grobogan,” bebernya.

“Kami harap ini akan  menumbuhkan  minat dan keterampilan teknis mereka untuk menggeluti dunia pertanian,” timpalnya lagi.

Terakhir, Duta Besar Uni Eropa, Vincent  Piket, berujar, pihaknya merasa bangga dapat mendukung proyek ECHO Green di tiga Kabupaten ini.

“Bagi  kami,  ekonomi  hijau  yang  inklusif  adalah  bagian  dari  pencapaian  tujuan  pembangunan  berkelanjutan  (TPB).  Dengan  menerapkan  prinsip  ekonomi  hijau  dan  inklusif  di  sektor  pertanian  akan  meningkatkan  produktivitas  pertanian,  menciptakan  pendapatan,  dan  mengurangi  ketimpangan dan kemiskinan,”  ujarnya.

Sumber: https://jakarta.tribunnews.com/2020/10/16/uni-eropa-dan-yayasan-penabulu-luncurkan-echo-green?page=1

Yayasan Penabulu bersama Konsorsium, Launching Proyek ECHO Green secara Nasional

Rakyat Merdeka News.Com Ulakan Padang Pariaman — Melihat potensi Negara Indonesia yang memiliki Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam melimpah dan kompetitif, terutama dalam komoditas pertanian. Ditambah lagi dengan posisi yang berada dalam kawasan khatulistiwa, dengan sinar matahari yang ideal sepanjang tahun.

Kondisi ini yang sangat strategis ini, telah disikapi oleh Pemerintah Indonesia secara serius dengan menerbitkan Undang-Undang no. 6 tahun 2014 tentang Desa. Sebagaimana dijelaskan, bahwa tujuan pembangunan Desa antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Asas demokratisasi dan partisipasi yang diemban oleh UU tentang Desa ini, merupakan upaya dalam mendorong dan mempromosikan keterlibatan yang besar bagi perempuan dan generasi muda. Untuk terlibat aktif dalam proses perencanaan pembangunan desa, melalui pengembangan inisiatif ekonomi hijau dan berkelanjutan di sektor pertanian.

Namun pada kenyataan malah sebaliknya, peran perempuan petani di sektor pertanian semakin hari semakin berkurang. Sektor ini juga ditinggalkan oleh para generasi muda Desa, karena dianggap tidak mampu memberikan penghidupan yang layak di kemudian hari.

Karena itu, kaum perempuan dan generasi muda tani memang membutuhkan dukungan dari Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan Pemerintah pada semua tingkatan dan sektor swasta. Terutama dalam meningkatkan praktek pertanian berkelanjutan dan untuk mengembangkan model pertanian yang paling sesuai dengan kebutuhan dan komoditas unggulan yang dimiliki seluruh rantai pertanian dari mulai input, produksi hingga pemasaran.

Dengan latar belakang yang demikian, Yayasan Penabulu bersama Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK) dan Konsil LSM Indonesia serta didukung oleh ICCO Cooperation, mengembangkan aksi “Promosi Inisiasi Ekonomi Hijau Oleh Petani Perempuan dan Generasi Muda dalam Sektor Pertanian Berkelanjutan di Indonesia (ECHO Green)”.

Selanjutnya, pada Jum’at (16/10) dilakukan Louncing ECHO Green yang bertempat di Agriculture War Room Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Jakarta. Pertemuan yang dilakukan secara hybrid itu, untuk tatap muka secara nasional dengan kabupaten akan terhubung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting.

Peluncuran program ini melibatkan Kementerian terkait, Pemerintah Kabupaten sasaran, sektor swasta dan asosiasi swasta terkait pertanian, OMS, badan pembangunan, akademisi, media serta kalangan masyarakat sipil yang terlibat dengan isu pertanian perempuan dan generasi muda tani.

Rangkaian acara Launching proyek ECHO Green, ditandai dengan pemukulan gong dan sirine yang dilanjutkan dengan penandatanganan secara simbolis oleh perwakilan dari Kementrian. Acara diawali dengan pemutaran video dan dilanjutkan penyampaian laporan pelaksanaan proyek oleh Eko Kurniawan Komara Direktur Eksekutif Yayasan Penabulu dan sambutan selamat datang oleh Kelompok Wanita Tani. Kemudian pidato sambutan dari Hans Farnhammer selaku Kepala Kerjasama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

Diakhir pertemuan dilakukan konferensi pers secara virtual, terkait proyek ECHO Green yang diikuti oleh media nasional dan media lokal. Bertindak sebagai pemandu dan moderator dalam tanya jawab, Novianti Manurung dari Uni Eropa dan Misran Lubis Direktur Konsil LSM Indonesia serta Dida Suwarida selaku National Project Manager (NPM) ECHO Green.

Menurut Direktur Eksekutif Penabulu Eko Komara. Pada tahap inisiasi proyek, ECHO Green telah melakukan sosialisasi di tingkat nasional dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan dari Kementerian terkait dalam pelaksanaan proyek, serta untuk menyebarluaskan gambaran tentang strategi proyek. Sementara itu pada tingkat lokal, Sosialisasi dan penyebarluasan strategi proyek telah dilakukan di masing-masing kabupaten dan kecamatan lokasi proyek ECHO Green.

Eko Komara menjelaskan, bahwa proyek yang dibiayai oleh Uni Eropa Delegasi Indonesia dan Brunei Darussalam ini, telah dimulai pelaksananya sejak bulan Januari 2020 dan diharapkan tuntas bulan Desember 2022. Tujuannya adalah, untuk mendorong inisiatif ekonomi hijau oleh petani perempuan dan generasi muda di sektor pertanian berkelanjutan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian, ketahanan pangan, peluang kerja yang layak, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif menuju pencapaian SDG2, SDG5, dan SDG8 di Indonesia.

“Aksi Proyek ini akan fokus pada upaya untuk meningkatkan kolaborasi antara Pemerintah dengan OMS dan sektor swasta, untuk secara efektif memperkuat keterlibatan petani perempuan dan generasi muda. Terutama dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan desa, sehingga petani perempuan dan generasi muda memperoleh posisi dan peran yang lebih baik dalam rantai nilai pertanian. Kemudian dalam praktik pertanian yang berkelanjutan, sehingga terjadi peningkatan mata pencaharian dan pendapatannya”. Ujar Eko mengakhiri pembicaraan.

Sasaran proyek ini berada pada tiga daerah yakni, Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sasaran lokasi untuk kabupaten Padang Pariaman adalah sebanyak 25 Desa/Nagari, yang tersebar di Kecamatan Batang Anai, Lubuk Alung dan Ulakan Tapakis. Semua Camat dan wali nagari daerah sasaran, mengikuti mengikuti acara launching ini secara virtual melalui aplikasi zoom meeting.

Di dalam kerangka ini, Pemerintah desa/nagari memiliki kewenangan dan hak otonomi untuk menyusun rencana tata ruang dan tata guna lahan desa yang terintegrasi. Kegiatan ini dilakukan melalui proses partisipatif, dengan memastikan keterlibatan efektif perempuan dan kelompok generasi muda serta kelompok marjinal (tidak berdaya) secara ekonomi lainnya. Kepastian alokasi peruntukan lahan pertanian desa sebagai aset lahan desa bagi perempuan dan generasi muda kelompok tani, akan menjadi langkah awal pengembangan inisiatif ekonomi hijau pada sektor pertanian di ECHO Green. (AS/KN)

Sumber: https://rakyatmerdekanews.com/2020/10/16/yayasan-penabulu-bersama-konsorsium-lounching-proyek-echo-green-secara-nasional/

Peringati Hari Pangan, Proyek ECHO Green Diluncurkan

Peluncuran program Echo Green virtual

KBRN, Depok: Yayasan Penabulu bersama Konsorsium pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), Konsil LSM Indonesia dan ICCO Cooperation meluncurkan proyek bertajuk “Promoting Green Economic Initiatives by Women and Youth Farmers in the Sustainable Agriculture Sector in Indonesia (ECHO Green)”.

Peluncuran proyek ECHO Green yang bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Dengan dukungan dana dari Uni Eropa senilai €950.000 atau Rp16.6 miliar, proyek ECHO Green akan meningkatkan kolaborasi antara Pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk memperkenalkan praktek pertanian berkelanjutan dan untuk memastikan keterlibatan perempuan dan petani muda dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan.

“Proyek ini akan memberikan dukungan teknis kepada 120 CSO, 100 petani perempuan, 100 petani muda,

dan 100 desa di delapan kecamatan di tiga kabupaten di Indonesia, yaitu Padang Pariaman (Sumatera

Barat), Grobogan (Jawa Tengah) dan Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat). Proyek tersebut akan berakhir

pada tahun 2022,” ujar Direktur Yayasan Penabulu Eko Komara dalam diskusi secara virtual yang diikuti wartawan di Depok, Jawa Barat, Jumat (16/10/2020).

Kata Eko, Echo Green mendukung ekonomi hijau yang inovatif dengan perempuan dan kaum muda berada di garis depan.

“ECHO Green dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di daerah. Perempuan dan kaum muda memiliki peran penting dalam bidang pemberdayaan sumber daya manusia, dan menjadi motor pembangunan di era Teknologi Informasi 4.0,” papar Eko.

National Program Manager ECHO Green Dida Suwarida mengatakan, proyek ECHO Green sejalan dengan agenda prioritas pembangunan nasional untuk tahun 2020‐2024, terutama Strategi 6.2.2 yakni meningkatkan peran dan keterwakilan perempuan dalam politik dan pembangunan Strategi 6.3.3. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan dan penataan ruang kawasan perdesaan, dan Strategi 6.9.9 meningkatkan partisipasi generasi muda dalam pembangunan.

Diungkap Dida, dukungan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Grobogan dan Lombok Timur membawa nilai

tambah dalam pencapaian tujuan ECHO Green.

Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket menuturkan, perempuan dan petani muda memainkan peran penting dalam komunitas pertanian lokal.

“Melatih mereka menggunakan teknologi pertanian modern akan meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi. Hal ini akan membantu membangun pertanian jangka panjang dan berkelanjutan. Dengan demikian, proyek baru ini akan memberikan manfaat langsung bagi warga Padang Pariaman, Grobogan, dan Lombok Timur,” urai Vincent.

Lebih lanjut dikatakan Vincent, Uni Eropa bangga mendukung proyek ini di tiga kabupaten di Indonesia yang berada di masing-masing provinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

“Bagi kami, ekonomi hijau yang inklusif adalah bagian dari pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Dengan menerapkan prinsip ekonomi hijau dan inklusif di sektor pertanian akan meningkatkan produktivitas pertanian, menciptakan pendapatan dan mengurangi ketimpangan dan kemiskinan,” tutup Vincent.

Sumber : https://rri.co.id/ekonomi/914192/peringati-hari-pangan-proyek-echo-green-diluncurkan

Uni Eropa Dukung Proyek Senilai €255,000 Untuk Penguatan Kapasitas CSO Indonesia Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Beritapagi.co.id 28 Februari 2020: Sustainable Management dan Peluang Pendanaan Untuk Lanskap Sembilang Dangku Diharapkan Bisa Berjalan

Gesahkita.com 28 Februari 2020 : Menanti Perhatian Lebih Jauh Terkait Sustainable Kelola Sembilang Dangku

Haluansumatera.com 28 Februari 2020: Sumsel Komitmen Terus Mengembangkan Pembangunan Hijau di Bumi Sriwijaya