Lokakarya Penyusunan Usulan Program Prioritas di Area Model 3

Kegiatan lokakarya penyusunan usulan program prioritas area model 3 (tiga) dilaksanakan pada Sabtu tanggal 22 Juni 2019 dan dilaksanakan di Hotel Santika, Palembang Sumatera Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh ZSL, Pemerintah Kabupaten Banyuasin (Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Disbunak, Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan), PT. Raja Palma, PT. KCI, Pinus, Perangkat Kecamatan, Perangkat Desa dan Perwakilan Masyarakat Desa Sungsang 1, Sungsang 2, Sungsang 3, Sungsang 4, Marga Sungsang, Sumber Rejeki dan Tabala Jaya.

Lokakarya ini diawali dengan pemberian sambutan oleh Bapak David Ardhian selaku Deputy Director Program Kelola Sendang dan dilanjutkan oleh Arief selaku moderator. Arief menyampaikan bahwa Kegiatan ini diadakan agar Desa dapat ikut menentukan program prioritas dan bentuk pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat di masing- masing Desa area model. Hasil diskusi hari ini akan dibahas lebih lanjut dalam forum yang lebih besar pada tanggal 26 Juni 2019 mendatang untuk mensinergikannya dengan berbagai pihak.

Dalam kegiatan ini peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk saling berdiskusi dan mempresentasikan masalah dan potensi dari Desa yang masuk dalam area model 3.

  1. Desa Sumber Rezeki dan Tabala Jaya Masalah: Infrastruktur, konflik dengan Taman Nasional, Sanitasi, Ekonomi, Lingkungan dan Kesehatan. Potensi: Gotong royong masih ada, Pertambakan.
  1. Kecamatan Banyuasin II Masalah: Infrastruktur, Ekonomi, Lingkungan Hidup. Potensi: Infrastruktur PDAM tersedia, Puskesmas sudah ada, Koperasi konsumsi.

Hasil diskusi ini diharapkan oleh peserta lokakarya dapat diimplementasikan dan bermanfaat untuk kehidupan yang lebih baik.

Konsultasi Publik Rencana Bisnis UPTD KPH Wilayah I Meranti

Kegiatan konsultasi publik rencana bisnis UPTD KPH Wilayah I Meranti yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2019. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Zuri, Palembang, Sumatera Selatan, dengan diawali sambutan oleh Bapak David Ardhian yang mewakili Direktur Projek Kelola Sendang. Dalam sambutannya Bapak David menyampaikan pentingnya pengelolaan Kawasan dengan melakukan penyusunan rencana bisnis.

Penyusunan rencana bisnis dianggap penting di Kelola Sendang karena untuk:

  1. Memperkuat KPH di dalam melihat struktur aset dan potensi yang dimiliki untuk dikembangkan kedepan. Dalam hal ini terdapat produk yang lebih jelas atau kegiatan yang lebih clear dan potensial untuk dilestarikan dalam rangka mengembangkan kelola hutan supaya bermanfaat maupun kemandiran KPH itu sendiri.
  2. Keberadaan rencana bisnis dapat menjadi rujukan bagi KPH untuk berhubungan dengan pihak lainnya. Jika ada rencana yang jelas maka dapat memudahkan kerjasama dengan sektor swasta, dengan pasar, dengan masyarakat maupun dengan Lembaga donor untuk dapat memberikan dukungan pada rencana yang sudah konkrit. Dengan adanya rujukan dapat mempermudah proses koordinasi, komunikasi, maupun upaya-upaya untuk membangun kemitraan yang lebih lanjut.
  3. Upaya bagaimana pengelolaan hutan pada tingkat tapak dapat berjalan sesuai dengan amanat regulasi yang terkait. Keberadaan Rencana bisnis ini adalah sebagai upaya untuk memperjelas arah terhadap pengelolaan hutan pada tingkat tapak.

Selain penyusunan rencana bisnis untuk Kelola Sendang, diskusi ini juga menghasilkan rangkuman 5 jenis komoditas yang berpotensi di KPH Meranti, yaitu: lebah madu, rotan, jernang, Argoforestry khususnya singkong, sengon dan jagung.

Rapat Kerja Project Supervisory Unit dan Project Implementation Unit (PSU&PIU) Kemitraan Pengelolaan Lansekap Sembilang-Dangku (KELOLA Sendang)

Kegiatan Project Supervisory Unit dan Project Implementation Unit (PSU&PIU) Kemitraan Pengelolaan Lansekap Sembilang-Dangku sudah dilakukan pada Jumat, 24 Mei 2019 yang dilaksanakan di Ruang Rapat Hotel Santika, Palembang, Sumatera Selatan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Tim ZSL, Wakil Ketua dan anggota PSU/PIU, UPT KPH Banyuasin, KPH Muba, HAKI, PUTER, DAEMETER, SNV, Penabulu, UPT Kementrian LHK, dan Taman Nasional Berbak Sembilang.

Kegiatan diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, MSi mewakili ZSL. Dalam sambutannya Ibu Dami menyampaikan rencana-rencana kegiatan mendatang terkait masterplan yang sudah dibentuk sampai 2028. Kemudian dilanjut sambutan oleh Dr. Syahrul Yunardi yang mewakili Ketua PSU.

Diskusi membahas mengenai pengembangan-pengembangan area model kerja, yang terdiri dari:

  1. Area model 1 (satu) yaitu Kawasan Hutan Dangku – Meranti.
  2. Area model 2 (dua) yaitu Kawasan Hidrologis Gambut Sungai Merang – Sungai Ngirawan), dan
  3. Area model 3 (tiga) yaitu Pengembangan Eco-eduwisata

Dan hasil dari diskusi yang berlangsung dari pukul 09.00 – 18.00 WIB, menghasilkan:

  1. Perlu Elaborasi terkait isu-isu strategis maupun masalah menjadi lebih detail sehingga program- program yang dikembangkan bisa lebih terkonsentrasi pada penyelesaian masalah – masalah nyata di lapangan.
  2. Perlu support sistem yang terbangun di dalam konteks area model.
  3. Perlu ada forum multipihak yang menjadi instrumen dalam membangun kolaborasi dan harus optimalkan.
  4. Dari sisi tata pemerintahan, ada pokja pembangunan hijau yang menjadi wadah untuk menyesuaikan rencana intervensi area model dengan rencana pembangunan daerah untuk menurunkan angka kemiskinan.

Audiensi Bersama Kepala BAPPEDA Banyuasin dalam Pengembangan Ekowisata Area Model 3


Audiensi bersama kepala BAPPEDA Banyuasin untuk pengembangan Ekowisata Area Model 3 dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Mei 2019 bertempat di Pondok Kelapo, Palembang, Sumatera Selatan. Pertemuan diawali dengan pembukaan oleh Bapak Iwan dari BAPPEDA Banyuasin yang memaparkan hasil tindak lanjut penyusunan masterplan dalam pengembangan ekowisata Sungsang Sembilang dan pengelolaan sampah.
Kemudian dilanjutkan pemaparan dari Arief soal pengembangan eco-eduwisata di Sungsang Sembilang. Sungsang dikenal sebagai kampungan nelayan dan terdapat Kawasan konservasi yang masih alamiah dan sangat khas yaitu Taman Nasional Sembilang.

Arief juga memaparkan mengenai dasar dari sebuah ekowisata, yang dimana ekowisata tidak hanya diartikan sebagai wisata alam, tapi banyak aspek yang dapat disentuh dari ekowisatanya. Biasanya faktor sumber daya manusianya kurang diperhatikan padahal yang terpenting dalam ekowisata adalah mengelola manusia untuk menjadi entitas yang mampu menyediakan layanan berwisata dengan edukatif.

Dari hasil pemaparan yang disampaikan oleh Arief, Bapak Iwan selaku BAPPEDA Banyuasin merespon positif lokasi-lokasi di area model 3 untuk bisa dijadikan eco-eduwisata. Salah satunya adalah pulau tikus. Dalam pengembangannya perlu dipikirkan untuk pengembangannya akan diserahkan kemana, apakah desa, atau melalui UPTD. Kemudian kegiatan ekowisata ini haruslah melibatkan masyakarat lokal.

Menabung Sampah untuk Meningkatkan Kepedulian Lingkungan dan Mendapatkan Keuntungan Ekonomi

Bank Sampah Cendekia dan Bank Sampah Cikupa

 

Pada periode kedua kemitraan antara Penabulu dengan PT. JAPFA Comfeed Indonesia TBK, Program Sekolah Hijau JAPFA mulai difokuskan untuk mendampingi dua Bank Sampah Sekolah. Periode kedua dimulai pada 4 Maret 2019 dan berakhir pada 2019. Namun, pada perkembangannya dilakukan adendum untuk memperpanjang kerja sama hingga 20 desember 2019. Pada periode kedua ini fokus program diarahkan kepada Penambahan Nilai Tambah Sampah Sekolah Melalui Peningkatan Kapasitas Sekolah dan Bank Sampah.

Bank Sampah di kedua wilayah dampingan sebenarnya sudah terbentuk sejak akhir tahun 2018. Bank Sampah SDN Cikande 3 yang kemudian dinamakan dengan Bank Sampah Cendekia didirikan pada 24 November 2018 sedangkan Bank Sampah SDN Cikupa 1 didirikan pada 20 Desember 2018. Namun, pada awal terbentuknya, Bank Sampah belum bisa berjalan karena pengurus belum aktif.

Mengagas bank sampah menjadi bagian penting dalam Program Sekolah Hijau JAPFA. Hal ini karena Bank Sampah dibentuk dalam rangka menjaga kualitas dan pencemaran lingkungan yang kerap terjadi karena banyaknya sampah yang tak terkelola. Membangun bank sampah merupakan salah satu kegiatan yang tepat sasaran untuk mengedukasi para siswa, guru dan orang tua untuk memahami pentingnya peduli lingkungan dan membangun kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan.

Memulai proses baru bukan hal mudah dalam mewujudkan bank sampah, namun berkat kegigihan tim pelaksana lapangan, sedikit demi sedikit budaya menabung sampah pun mulai terbangun. Di SDN Cikupa 1 kini telah memilah sampah.

Menurut Ibu Rosmala, Bendahara bank Sampah SDN Cikupa 1, “harganya berbeda-beda, paling mahal botol dan gelas air mineral. Semua dicatat dalam buku tabungan bagi warga yang memberikan sampahnya,” paparnya.

Setiap seminggu atau dua minggu sekali, para siswa dan warga sekitar yang jadi nasabah bank sampah, menyetorkan sampah rumah tangga mereka setelah dipilah sesuai dengan jenisnya. Sampah Anorganik yang diterima di Bank Sampah SDN Cikupa 1 terdiri dari beberapa kategori seperti kertas, Duplex, PET kemasan botol, kemasan bekas sachet makanan, besi, alumunium, emberan, kerasan, Aro, LD Galon, Plastik Bening, kaleng dll.

Rata-rata yang laku di jual ke pengepul/bandar rongsokan, biasanya diterima oleh bank sampah. Untuk kertas nantinya bisa di daur ulang sendiri di bank sampah dan dijual ke Penabulu dan JAPFA. Tentunya tujuan utama ikut menabung di bank sampah ini bukan karena semata nominal uang yang didapat. Akan tetapi, seberapa besar usaha para siswa, guru, dan masyarakat di lingkungan sekitar sekolah untuk mengurangi sampah. Minimal bisa mengelola sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga masing-masing. Targetnya kegiatan menabung di bank sampah ini bisa berkontribusi untuk permasalahan sampah di sekolah.

Duta Lingkungan Sekolah; Champion Muda Pahlawan Lingkungan

Penabulu menjalin kemitraan dengan PT. JAPFA Comfeed Indonesia Tbk dalam menjalankan program Sekolah Hijau JAPFA. Pada tahap pertama, program dimulai pada 30 Agustus 2018 dan berakhir pada 4 Januari 2019. Program Sekolah Hijau JAPFA memberikan pendampingan kepada sepuluh sekolah di wilayah Provinsi Banten. Sekolah tersebut adalah SDI Al Mudzakarah, SDN Cibereum, SDN Cikande 2, SDN Cikande 3, SDN Cimasuk, SDN Gabus 3 dan SDN Pabuaran yang berada di Cikande, Kabupaten Serang. Tiga SD lainnya adalah SDN Cikupa 1, SDN Cikupa 2, SDN Cikupa 4 SDN yang berada di Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Dalam Program ini, pendampingan juga dilakukan dengan melibatkan siswa-siswi dari 10 sekolah dampingan. Bersama dengan kepala sekolah dan guru, kemudian dilakukan pemilihan Duta Lingkungan Sekolah. Penyelenggaraan Duta Lingkungan Sekolah itu menjadi bagian strategi dalam mewujudkan zero waste to landfill. Serangkaian kegiatan dalam program tersebut dilaksanakan seperti pelatihan dan pendampingan terkait pengurangan sampah melalui tata kelola sampah dan pemanfaatan sampah baik kertas maupun plastik untuk di daur ulang.

Setiap sekolah merekomendasikan beberapa siswa-siswi yang potensial untuk menjadi kandidat duta lingkungan sekolah. Siswa-siswi yang terpilih mewakili kelasnya. Sebelum sekolah merekomendasikan siswa-siswinya untuk menjadi duta. Adapun kriteria dalam memilih Duta Lingkungan Sekolah yakni:

  1. Berprestasi
  2. Peduli terhadap lingkungan bersih
  3. Aktif dalam gerakan penghijauan dan daur ulang sampah

Selain ketiga kriteria tersebut, ada kriteria lain dari tim pendamping program sekolah hijau, yaitu ;

  1. Memiliki ketertarikan dengan program lingkungan hidup Sekolah Hijau JAPFA.
  2. Memahami pengetahuan dasar tentang materi lingkungan hidup yang telah diadakan pelatihan oleh tim.
  3. Berani dan bertanggung jawab ketika tampil di depan umum

Setelah terpilih, Duta lingkungan sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab yang diemban seperti mewakili sekolah dalam kegiatan lingkungan hidup baik internal sekolah maupun antar sekolah, memberikan contoh tentang sikap dan tingkah laku yang baik bagi semua siswa dan memperkenalkan budaya ramah lingkungan yang dikembangkan oleh sekolah hijau. Dalam pemilihan tersebut ada 64 siswa-siswi terpilih menjadi duta lingkungan hidup.

 

Pengelolaan Sampah untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan Melalui Program Sekolah Hijau JAPFA

Penabulu menjalin kemitraan dengan PT. JAPFA Comfeed Indonesia Tbk dalam menjalankan program Sekolah Hijau JAPFA. Pada tahap pertama, program dimulai pada 30 Agustus 2018 dan berakhir pada 4 Januari 2019. Program Sekolah Hijau JAPFA memberikan pendampingan kepada sepuluh sekolah di wilayah Provinsi Banten. Sekolah tersebut adalah SDI Al Mudzakarah, SDN Cibereum, SDN Cikande 2, SDN Cikande 3, SDN Cimasuk, SDN Gabus 3 dan SDN Pabuaran yang berada di Cikande, Kabupaten Serang. Tiga SD lainnya adalah SDN Cikupa 1, SDN Cikupa 2, SDN Cikupa 4 SDN yang berada di Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Ada tiga komponen program dalam sekolah hijau ini yakni pengelolaan sampah, pengelolaan kebun dan bank sampah. Pelaksanaan Pengelolaan sampah dilakukan di sekolah jangkauan dengan melibatkan kepala sekolah, guru, wali murid, murid, pedagang dan masyarakat di lingkungan sekitar dengan mengelar serangkaian kegiatan seperti loka latih dan juga pendampingan dan bimbingan teknis.

Program ini dilakukan agar sekolah memiliki sistem dalam mengelola sampah dan memanfaatkannya untuk memperbaiki kualitas lingkungan di sekolah. Prasyarat utama dari pengelolaan sampah adalah membangun kebiasaan untuk membuang sampah sesuai jenisnya sehingga sampah sudah terpilah dengan baik. Sampah terpilah tersebut kemudian dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai guna.

Sampah plastik dari air minum kemasan digunakan sebagai media tanam. Sampah organik dimanfaatkan untuk membuat kompos. Sekolah kemudian membuat taman dengan metode vertikultur. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa sampah bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk perbaikan kualitas lingkungan.

Hal lain yang dilakukan sekolah Hijau JAPFA adalah membekali sekolah untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi kerajinan tangan. Kertas bekas juga bisa dikreasikan menjadi kertas daur ulang juga bisa dibuat menjadi hasil kerajinan.  Dari upaya tersebut, pada akhir Desember 2018, 10 sekolah dampingan mampu mengurangi sampah yang terbuang ke pembuangan akhir. Mayoritas sekolah juga telah memiliki kebun sekolah, baik kebun berbasis lahan, green house maupun kebun vertikal dengan memanfaatkan botol sebagai media tanam dan sampah organik menjadi kompos untuk pupuk tanaman. Sampah dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan juga menjadikan sekolah menjadi semakin indah.